Yield SRBI 12 Bulan Turun ke 7 Persen — Likuiditas Rupiah Sedang Longgar
Bank Indonesia menurunkan biaya menyerap likuiditas, dan pasar uang langsung merespons. Dalam lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) di pasar primer Jumat (28/8/2026), rata-rata tertimbang imbal hasil tenor 12 bulan yang dimenangkan turun ke 7,00 persen, dari 7,37 persen pada lelang 14 Agustus 2026. Turun 37 basis poin hanya dalam dua pekan — untuk instrumen yang jadi acuan bebas risiko dalam rupiah, itu bukan pergerakan kecil.
Yang menarik: penawarannya sendiri yang melunak
Penurunan ini bukan semata karena bank sentral menahan harga. Rata-rata tertimbang imbal hasil yang ditawarkan peserta lelang ikut melandai, dari 7,45 persen pada 14 Agustus menjadi 7,08 persen pada 28 Agustus. Artinya pelaku pasar sendiri bersedia menerima kupon lebih rendah — biasanya tanda likuiditas rupiah di perbankan sedang longgar dan uang mencari tempat parkir.
Volumenya mendukung tafsir itu. Penawaran yang masuk mencapai Rp43,5 triliun, dan BI menyerap Rp24 triliun. Rasio penawaran terhadap yang dimenangkan sekitar 1,8 kali, dan nominal serapan naik dari Rp20 triliun di lelang sebelumnya. Permintaan tetap tebal meski imbal hasilnya lebih tipis.
Erwin Gunawan Hutapea dari Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI menyebut perkembangan ini sejalan dengan kondisi likuiditas pasar uang dan perbankan yang dijaga bank sentral lewat pengelolaan instrumen moneter secara terukur.
Kenapa ini penting buat pemantau pasar
SRBI adalah pesaing langsung deposito dan SBN tenor pendek dalam memperebutkan dana rupiah. Ketika imbal hasilnya turun, ambang "aman tanpa risiko" ikut turun — dan dana yang sebelumnya nyaman parkir di instrumen bank sentral punya alasan lebih untuk bergeser ke SBN tenor lebih panjang, atau ke aset berisiko seperti saham.
Tren yang sama terlihat di pasar sekunder. Imbal hasil rata-rata tertimbang tenor 12 bulan turun dari 7,45 persen pada 18 Agustus ke 7,00 persen pada 20 Agustus. Di tenor pendek, data per 21 Agustus menunjukkan tenor 6 bulan di 6,70 persen dan tenor 3 bulan di 6,72 persen — praktis rata, bahkan sedikit terbalik. Kurva sependek itu yang mendatar biasanya berarti pasar tidak lagi menuntut premi untuk menunggu lebih lama.
Satu catatan penting: BI menegaskan SRBI tetap dipakai untuk menjaga kecukupan likuiditas, stabilitas pasar uang dan nilai rupiah, sekaligus tetap menarik aliran masuk portofolio asing. Dua tujuan itu bisa bergesekan. Imbal hasil yang terlalu rendah mengurangi daya tarik rupiah bagi dana asing jangka pendek. Jadi seberapa jauh tren pelandaian ini bisa berlanjut kemungkinan akan ditentukan oleh sekuat apa rupiah bertahan di lelang-lelang berikutnya — itu variabel yang layak dipantau, bukan diasumsikan.
Ditulis ulang dari [ANTARA News](https://www.antaranews.com/berita/5715849/bi-yield-srbi-tenor-panjang-melandai-ke-7-persen-di-lelang-pekan-ini) — bukan salinan langsung.