M Analisa Pasar
← Semua analisa

Mandiri Sekuritas Pasang Target IHSG 6.810, dan Kenapa 11 November Jadi Tanggal Penting

ihsgmscialiran dana asingstrategi investasiidx80

Dalam Mandiri Macro & Market Brief Q3 2026 yang digelar virtual Kamis (3/9/2026), Head of Equity Research Mandiri Sekuritas Kresna Hutabarat memasang target IHSG di level 6.810 untuk akhir 2026. Skenario optimistisnya 7.470, dengan syarat equity risk-free rate turun lebih jauh dari posisi sekarang.

Angka indeks memang yang paling gampang dikutip, tapi bukan bagian paling berguna dari paparan itu.

IDX80 dipasang lebih agresif dari IHSG

Untuk IDX80 — indeks 80 saham paling likuid di bursa — Mandiri memproyeksikan penguatan 8-10 persen dari posisi saat ini, menuju 107,2 di base case dan 122,1 di bull case. Sandarannya pertumbuhan laba per saham (EPS) yang stabil di kisaran 11 persen.

Selisih optimisme antara IHSG dan IDX80 ini bukan detail sepele. Kresna menyebut IDX80 semakin sering dipakai manajer investasi lokal sebagai benchmark pengukur kinerja dana kelolaan. Artinya, kalau tesisnya benar, uang yang masuk tidak tersebar merata ke seluruh papan — ia mengendap di blue chip yang bobotnya besar di indeks acuan itu. Pemegang saham lapis dua dan tiga bisa saja melihat IHSG naik tanpa portofolionya ikut bergerak.

Tanggal yang perlu dicatat: 11 November

Di sesi yang sama, Kresna memperkirakan aliran dana asing kembali masuk secara bertahap menjelang peninjauan indeks MSCI. Pengumumannya dijadwalkan 11 November 2026, dengan perubahan berlaku efektif 1 Desember 2026. Tanggal itu sekaligus menjadi batas akhir masa pemantauan MSCI atas reformasi transparansi dan penentuan porsi saham publik (free float) di pasar modal Indonesia.

Yang perlu digarisbawahi: Kresna sendiri menahan ekspektasi. Ia menyebut inflow-nya akan bertahap dan moderat, bukan gelombang besar, karena MSCI masih perlu memantau eksekusi reformasi yang dijalankan OJK dan BEI. Ini penting buat siapa pun yang tergoda memposisikan diri lebih awal — katalisnya nyata, tapi ekspektasi re-rating instan kemungkinan besar akan mengecewakan.

Empat tema dan ke mana sektornya mengarah

Mandiri menyusun proyeksinya di atas empat tema: valuasi pasar yang masih diskon akibat risiko makro global dan tingginya cost of capital; dorongan komoditas dan hilirisasi (emas, tembaga, nikel, batu bara, CPO) plus penguatan industri bullion nasional; moderasi belanja pemerintah pada semester II-2026 untuk menjaga defisit di bawah 3 persen PDB sekaligus menopang rupiah; serta reformasi berbasis negara lewat KDKMP, sentralisasi ekspor komoditas via Danantara, dan restrukturisasi BUMN.

Dari situ, sektor pilihannya jatuh ke emas dan tembaga, nikel, migas, kesehatan, rokok, dan keuangan. Pemulihan valuasi, kata Kresna, tidak akan terjadi merata — ia terkonsentrasi di sektor yang ditopang stabilitas nilai tukar dan penyerapan aliran modal menjelang musim dividen.

Baca proyeksi ini sebagai peta sektor, bukan target harga. Bagian yang paling bisa diuji dalam beberapa bulan ke depan bukan apakah IHSG menyentuh 6.810, melainkan apakah reformasi free float dan transparansi itu benar-benar lolos penilaian November.

Ditulis ulang dari [ANTARA News](https://www.antaranews.com/berita/5724977/mandiri-sekuritas-proyeksi-ihsg-capai-level-6810-pada-akhir-2026) — bukan salinan langsung.

© 2026 Analisa Pasar — bagian dari MarginIn. Tentang · Kebijakan Privasi
Sumber data: Bank Indonesia (suku bunga & inflasi) · World Bank (makro Indonesia) · FRED / Federal Reserve (makro global) · European Central Bank (kurs) · CoinGecko (kripto) · Twelve Data (saham global).
Tulisan di sini kami susun sendiri dari sumber-sumber di atas. Angkanya kami tampilkan apa adanya — anggap ini bahan analisa, bukan ajakan beli atau jual.