M Analisa Pasar
← Semua analisa

Sungai Kalimantan Kering, Tongkang Mandek — dan Kenapa Harga Batu Bara Justru Menguat

batu barakomoditasapbieksporlogistik

Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) akhirnya mengonfirmasi apa yang selama beberapa pekan hanya beredar sebagai video drone di media sosial: kekeringan dan penurunan muka air sungai di sejumlah wilayah Kalimantan sudah mengganggu pengangkutan batu bara.

Direktur Eksekutif APBI Gita Mahyarani menjelaskan mekanismenya secara teknis, dan justru di situ letak masalahnya. Sungai yang mendangkal membatasi draft — kedalaman muatan — kapal tongkang. Tongkang tetap bisa berlayar, tapi tidak dengan kapasitas penuh. "Muatan tidak dapat dimaksimalkan," katanya kepada CNBC Indonesia, Jumat (4/9/2026). Konsekuensinya berantai: batu bara yang tidak terangkut menumpuk di area tambang dan di stockpile pelabuhan.

Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung sebelumnya membantah bahwa mandeknya tongkang berkaitan dengan kebijakan pembatasan kuota produksi. Menurutnya murni faktor teknis: airnya memang tidak ada. Salah satu potret yang paling banyak beredar adalah tongkang yang disebut sudah hampir tiga bulan kandas di Sungai Kapuas, Kalimantan Barat.

Angka yang membuat ini relevan buat pasar

Konteks harganya kebetulan sedang menarik. Merujuk data Refinitiv yang dikutip CNBC Indonesia Research, harga batu bara ditutup di US$150,35 per ton pada perdagangan Kamis (3/9/2026), naik 0,97 persen dan memperpanjang reli menjadi tujuh hari beruntun dengan total penguatan 8,63 persen. Itu level tertinggi sejak 14 Oktober 2024 — hampir dua tahun. Sejak 2024 sampai Agustus 2026, batu bara hanya enam kali menyentuh US$150 per ton.

Yang lebih penting dari harga harian adalah pola di data ekspor. Badan Pusat Statistik mencatat nilai ekspor batu bara Januari–Juli 2026 naik 4,75 persen menjadi US$14,47 miliar dari US$13,81 miliar pada periode sama tahun lalu. Tapi volumenya turun 6,17 persen, dari 214,71 juta ton menjadi 201,47 juta ton.

Indonesia mengirim lebih sedikit, tapi menerima lebih banyak. Itu definisi pasar yang mengetat dari sisi pasokan — dan laporan Sxcoal menyebut pembeli termal di China memang menghadapi biaya pengadaan ulang yang lebih tinggi karena ketersediaan pasokan Indonesia makin terbatas.

Jangan langsung tarik garis lurus

Di sinilah APBI memberi peringatan yang layak dicatat. Gita menegaskan pergerakan harga batu bara ditentukan terutama oleh dinamika permintaan dan pasokan global; kondisi logistik domestik hanya salah satu faktor yang memengaruhi sentimen, bukan penentu tunggal kenaikan harga.

Itu pembatasan yang jujur. Reli harga saat ini juga ditopang hal-hal yang sama sekali tidak berkaitan dengan Kalimantan — pasokan coking coal di Shanxi yang masih ketat, dan impor dari Mongolia yang terpangkas karena kelangkaan solar di sana.

Buat pemantau emiten batu bara, konsekuensi yang lebih konkret ada di sisi operasional, bukan harga: stok menumpuk berarti penjualan tertunda, bukan hilang. Kalau hambatan sungai berlanjut ke kuartal IV, selisih antara produksi dan volume terjual adalah baris yang perlu dicek di laporan keuangan berikutnya — bukan cuma angka harga acuannya.

Ditulis ulang dari [CNBC Indonesia](https://www.cnbcindonesia.com/news/20260904185954-4-765108/kapal-tongkang-tak-bisa-berlayar-stok-batu-bara-ri-numpuk) — bukan salinan langsung.

© 2026 Analisa Pasar — bagian dari MarginIn. Tentang · Kebijakan Privasi
Sumber data: Bank Indonesia (suku bunga & inflasi) · World Bank (makro Indonesia) · FRED / Federal Reserve (makro global) · European Central Bank (kurs) · CoinGecko (kripto) · Twelve Data (saham global).
Tulisan di sini kami susun sendiri dari sumber-sumber di atas. Angkanya kami tampilkan apa adanya — anggap ini bahan analisa, bukan ajakan beli atau jual.