NexAl (MGLV) Bidik Rp2,54 Triliun lewat Rights Issue, Dilusi Maksimal 13,04%
PT NexAl Digital Infrastruktur Tbk (MGLV) resmi memasukkan dirinya ke dalam daftar emiten yang mencari dana besar untuk infrastruktur kecerdasan buatan. Lewat penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) alias rights issue, perseroan membidik dana hingga Rp2,54 triliun.
Angka yang perlu dicatat pemegang saham
NexAl akan menerbitkan maksimal 285.732.512 saham baru dengan harga pelaksanaan Rp8.880 per saham. Rasionya 100 saham lama berhak atas 15 HMETD. Konsekuensinya lugas: pemegang saham lama yang memilih tidak menebus haknya akan terdilusi maksimal 13,04% — angka yang konsisten dengan rasio 15 banding 115 saham beredar pascaaksi.
Jadwalnya sudah keluar di prospektus singkat. Hak akan diberikan kepada pemegang saham yang tercatat pada 3 November 2026, sementara periode pelaksanaan HMETD berlangsung 5–18 November 2026. Buat yang memegang MGLV, dua tanggal itu yang menentukan: masuk daftar di awal November, lalu putuskan tebus atau tidak dalam jendela dua pekan.
Satu detail yang biasanya paling menentukan nasib rights issue adalah siapa yang menyerap. Di sini, pemegang saham utama PT Nextier Datamate Center (NDC) menyatakan akan melaksanakan seluruh haknya, senilai Rp1,65 triliun. Artinya sekitar dua pertiga emisi sudah punya penyerap yang jelas sejak awal — sisanya yang benar-benar bergantung pada minat pasar.
Uangnya dipakai untuk apa
Dana rights issue akan disuntikkan sebagai modal ke dua anak usaha, PT Nextier Askara Center (NAC) dan PT Nextier GenAi Center (NGC), yang bersama-sama menggarap AI data center berkapasitas 102 MW berstandar tier III untuk kebutuhan hosting chip AI. Rinciannya:
- NAC sudah mengoperasikan 6 MW dan sedang menambah 36 MW di Jababeka, Jawa Barat.
- NGC membangun fasilitas 60 MW di Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB), Jawa Tengah.
Sebagian dana juga dipakai untuk mengambil alih piutang NDC dari kedua anak usaha tersebut — komponen penguatan struktur modal, bukan belanja kapasitas baru. Porsi ini yang layak dicermati investor: tidak seluruh Rp2,54 triliun berubah menjadi megawatt.
Kenapa ini menarik buat yang mengamati pasar
Cerita data center AI di bursa domestik mulai berpindah dari tahap narasi ke tahap belanja modal riil, dan belanja modal riil butuh uang tunai. Rights issue dengan dilusi dua digit adalah cara termahal bagi pemegang saham minoritas untuk ikut membiayai ekspansi. Presiden Direktur NexAl, Ahmad Zulfikar, menyebut aksi ini sebagai langkah merealisasikan arah bisnis baru yang telah disetujui pemegang saham.
Pertanyaan yang belum terjawab dari prospektus singkat: seberapa cepat kapasitas 102 MW itu terisi kontrak. Kapasitas yang dibangun duluan dan baru dicari penyewanya belakangan punya profil arus kas yang jauh berbeda dari kapasitas yang sudah terikat kontrak. Sampai detail itu keluar, dilusi 13,04% adalah biaya yang pasti, sementara imbal hasilnya belum.
Ditulis ulang dari [detikFinance](https://finance.detik.com/bursa-dan-valas/d-8658745/nexal-targetkan-rp-2-54-t-dari-rights-issue-bakal-kembangkan-al-data-center) — bukan salinan langsung.