Kuota Nikel Dipangkas, tapi Stok 600 Ribu Ton di LME dan China Masih Menahan Harga
Pemerintah memangkas produksi bijih nikel sejak akhir 2025, dan menurut Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) kebijakan itu sudah mulai mengubah keseimbangan pasar. Tapi ada satu angka yang membuat efeknya ke harga belum sebesar yang diharapkan: stok nikel di London Metal Exchange (LME) dan China yang tahun ini diperkirakan bisa melampaui 600 ribu ton.
Apa yang berubah
Lewat Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026, pemerintah menargetkan produksi bijih nikel sekitar 250-260 juta ton, jauh di bawah realisasi 2025 yang mencapai 379 juta ton. Tujuannya terang: menahan banjir pasokan yang selama beberapa tahun terakhir menekan harga nikel dunia.
Ketua Umum FINI, Arif Perdana Kusumah, menilai pengetatan ini efektif mengurangi kelebihan pasokan yang menumpuk dari tahun-tahun sebelumnya. Pasokan bijih yang lebih ketat menaikkan biaya marginal produsen, dan biaya yang lebih tinggi itu ikut mengangkat proyeksi harga nikel ke level di atas perkiraan awal.
Kenapa harganya belum melonjak
Masalahnya ada di gudang, bukan di tambang. Menurut Arif, inventori besar di LME dan China masih menjadi rem bagi kenaikan harga. Selama stok setebal itu tersedia, pembeli tidak perlu terburu-buru, sehingga pengetatan pasokan dari Indonesia belum langsung terasa sebagai lonjakan harga. FINI juga menyebut ketidakpastian regulasi domestik maupun global serta situasi geopolitik sebagai faktor penahan lainnya.
Di sisi pemerintah, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya melontarkan wacana moratorium smelter yang hanya menghasilkan produk setengah jadi. Ia menyebut kelebihan pasokan sudah mencapai sekitar 2,5 juta ton dan sebagian besar smelter yang beroperasi masih berada di tahap produk antara. Bahlil juga menegaskan tingkat operasi smelter akan disesuaikan dengan kondisi permintaan global, meski kapasitas terpasangnya lebih besar, supaya komoditas Indonesia tidak dijual murah saat pasar jenuh.
Yang perlu dicermati investor
Buat yang memegang atau memantau saham sektor nikel, ini cerita dua sisi. Pengetatan kuota adalah dukungan struktural bagi harga dalam jangka menengah, tapi produsen yang volumenya ikut dipangkas tidak otomatis untung. Kenaikan harga per ton bisa tergerus oleh volume penjualan yang lebih kecil dan biaya bijih yang lebih mahal, terutama bagi smelter yang bergantung pada pasokan bijih dari pihak lain.
Indikator yang layak dipantau ke depan relatif sederhana: arah stok nikel di LME dan China. Selama angkanya masih di kisaran ratusan ribu ton, kenaikan harga kemungkinan tetap terbatas. Kalau stok mulai turun berarti, barulah efek pengetatan pasokan dari Indonesia punya ruang untuk tercermin penuh di harga. Wacana moratorium smelter setengah jadi juga perlu diikuti karena bisa mengubah peta pemain di industri hilir.
Ditulis ulang dari [CNBC Indonesia](https://www.cnbcindonesia.com/news/20261014190002-4-776280/tak-diduga-kebijakan-bahlil-ini-berdampak-bagi-pasar-nikel-dunia) — bukan salinan langsung.