M Analisa Pasar
← Semua analisa

Kredit Tumbuh 13,58 Persen, DPK Cuma 11,21 Persen — Selisih yang Layak Dipantau Pemegang Saham Bank

perbankanojklikuiditaskreditsaham bank

Otoritas Jasa Keuangan merilis data intermediasi perbankan per Juli 2026 dalam konferensi pers hasil RDKB Agustus, dan satu angka layak dicatat pemantau pasar: penyaluran kredit industri mencapai Rp9.135 triliun, tumbuh 13,58 persen secara tahunan. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyebut laju pertumbuhannya "semakin solid".

Masalahnya ada di sisi sebelah. Dana pihak ketiga tumbuh 11,21 persen yoy menjadi Rp10.336 triliun — terakselerasi, tapi tetap tertinggal sekitar 2,4 poin persentase dari kredit. Kalau dihitung kasar, kredit kini setara sekitar 88 persen dari DPK industri. Selama dua sisi neraca tumbuh dengan jarak segitu, ruang ekspansi kredit perlahan dibiayai dari sesuatu selain tabungan nasabah.

Komposisinya yang bikin menarik

Pertumbuhan ini sangat tidak merata, dan justru di situ ceritanya. Berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi melesat 25,13 persen yoy, disusul modal kerja 11,04 persen, sementara kredit konsumsi cuma 5,38 persen. Dari sisi debitur, kredit korporasi tumbuh 22,10 persen — sedangkan kredit UMKM merangkak 1,62 persen, meski itu perbaikan dari 1,05 persen pada Juni.

Artinya, mesin pertumbuhan kredit saat ini adalah belanja modal korporasi besar, bukan konsumsi rumah tangga. Bank BUMN memimpin dengan pertumbuhan kredit 16,95 persen yoy. Buat yang memegang saham bank, ini relevan: kredit investasi korporasi bertenor panjang dan margin tipis, karakternya beda dari kredit konsumsi yang bermargin tebal. Bauran yang bergeser ke arah sana bisa menekan NIM meski volume kreditnya tumbuh dua digit.

Di sisi pendanaan, deposito tumbuh paling cepat (13,13 persen), diikuti giro 11,81 persen dan tabungan 8,37 persen. Dana murah tumbuh paling lambat — biaya dana cenderung naik, bukan turun.

Tapi bantalannya masih tebal

Penting untuk tidak melebih-lebihkan. Rasio likuiditas industri masih jauh di atas ambang: AL/NCD 102,45 persen (batas 50 persen), AL/DPK 23,1 persen (batas 10 persen), dan LCR di 187,5 persen. Kualitas kredit terjaga dengan NPL gross 2,10 persen dan NPL net 0,81 persen, sementara CAR 23,84 persen dan ROA 2,45 persen. Ini bukan potret sistem yang sesak.

Dua catatan kecil yang tetap patut dipantau: loan at risk masih 8,39 persen — jauh di atas NPL, artinya ada bantalan kredit bermasalah potensial yang belum jadi macet. Dan baki debet BNPL menembus Rp31,56 triliun, tumbuh 31,22 persen yoy dengan 33,50 juta rekening; kecil terhadap total kredit, tapi lajunya paling kencang di seluruh kategori.

Konsultan keuangan Elvi Diana, dalam [catatan terpisah ke ANTARA](https://www.antaranews.com/berita/5730069/kredit-tumbuh-lebih-cepat-dari-dpk-likuiditas-perbankan-perlu-dijaga), menekankan bahwa angka agregat bisa menyamarkan persoalan sesungguhnya: sebagian bank kelebihan likuiditas sementara yang lain justru tertekan. Ia mendorong pemantauan yang lebih granular per bank dan diversifikasi sumber pendanaan agar ekspansi kredit tidak sepenuhnya bergantung pada DPK.

Buat investor, itu pesan yang tepat sasaran. Angka industri terlihat sehat — yang menentukan justru bank mana yang berada di sisi mana dari distribusi itu. Laporan kuartalan berikutnya, terutama pos NIM dan biaya dana, adalah tempat selisih 2,4 poin persentase ini akan terlihat konkret.

Ditulis ulang dari [ANTARA News](https://www.antaranews.com/berita/5730040/ojk-penyaluran-kredit-perbankan-capai-rp9135-triliun-per-juli-2026) — bukan salinan langsung.

© 2026 Analisa Pasar — bagian dari MarginIn. Tentang · Kebijakan Privasi
Sumber data: Bank Indonesia (suku bunga & inflasi) · World Bank (makro Indonesia) · FRED / Federal Reserve (makro global) · European Central Bank (kurs) · CoinGecko (kripto) · Twelve Data (saham global).
Tulisan di sini kami susun sendiri dari sumber-sumber di atas. Angkanya kami tampilkan apa adanya — anggap ini bahan analisa, bukan ajakan beli atau jual.