M Analisa Pasar
← Semua analisa

IPO di BEI Baru 7 dari Target 50: Investor Bertambah, Saham Baru Seret

IPOBEIOJKpasar modalsaham

Tahun 2026 tinggal menyisakan satu kuartal, dan papan pencatatan Bursa Efek Indonesia (BEI) masih sepi pendatang baru. Hingga 2 Oktober 2026, baru tujuh perusahaan yang melantai lewat penawaran umum perdana saham (IPO), dengan total dana yang dihimpun Rp2,16 triliun. Padahal, menurut catatan detikcom, BEI memasang target 50 emiten baru tahun ini — artinya realisasinya baru sekitar 14%.

Siapa saja yang sudah masuk

Tujuh nama yang sudah tercatat sepanjang tahun ini adalah BSA Logistics Indonesia (WBSA), Niramas Utama (JELI), Nitrasanata Dharma (JECX), Bach Multi Global (BACH), Esa Medika Mandiri (EMMI), Prodia Diagnostic Line (PRDL), dan Rans Entertainmen Indonesia (RANS). Kalau dana Rp2,16 triliun itu dibagi rata, rata-rata satu IPO hanya menghimpun sekitar Rp300 miliar — tahun ini jelas bukan tahunnya IPO jumbo.

Antrean yang tersisa juga pendek

Yang membuat target makin sulit dikejar adalah isi pipeline-nya. Data BEI menunjukkan hanya tujuh perusahaan yang sedang antre mencatatkan saham:

  • Dua perusahaan beraset kecil (di bawah Rp50 miliar), tiga beraset menengah (Rp50 miliar sampai Rp250 miliar), dan dua beraset besar (di atas Rp250 miliar).
  • Dari sisi sektor: empat perusahaan healthcare, dua energi, dan satu industrials.

OJK menyebut angka yang sedikit berbeda. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hasan Fawzi mengatakan ada lima perusahaan dalam antrean IPO dengan perkiraan nilai emisi Rp2,028 triliun. Pakai angka mana pun, hitungannya sama: kalaupun seluruh antrean itu lolos sebelum tutup tahun, jumlah emiten baru 2026 baru belasan, jauh dari 50.

Penghimpunan dana ditopang surat utang

Gambarannya lebih baik kalau melihat pasar modal secara keseluruhan. Hasan menyebut total penghimpunan dana sudah mencapai Rp169,5 triliun, dengan pipeline seluruh instrumen senilai Rp27,61 triliun. Ia juga memperkirakan ada potensi tambahan sekitar Rp24 triliun hingga akhir tahun dari obligasi dan sukuk jatuh tempo yang kemungkinan di-refinancing, sehingga menurutnya target Rp250 triliun masih punya peluang tercapai.

Catatannya, tambahan itu datang dari korporasi yang menggulung utang lama, bukan dari perusahaan baru yang menjual saham ke publik. Pasar modal tetap berfungsi sebagai sumber pendanaan, tapi lewat pintu utang, bukan ekuitas.

Kenapa ini penting buat investor ritel

Ada ketimpangan yang menarik di sini. Jumlah investor terus bertambah — Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyebut kini ada 31,9 juta SID, naik dari 10 juta lima tahun lalu — sementara pasokan saham baru nyaris berhenti. Makin banyak dana ritel mengejar pilihan saham yang itu-itu saja.

Bagi yang gemar berburu saham IPO, peluang di sisa tahun ini terbatas dan terkonsentrasi di sektor kesehatan. Sebagian calon emiten juga berskala kecil, yang biasanya berarti jumlah saham beredar tipis dan pergerakan harga lebih liar setelah listing. Membaca prospektus, terutama rencana penggunaan dana dan valuasi yang ditawarkan, jadi lebih penting ketimbang sekadar ikut antre karena barangnya langka.

Angka yang layak dipantau sampai akhir Desember: berapa dari antrean itu yang benar-benar melantai, dan apakah BEI merevisi target 50 emitennya.

Ditulis ulang dari [detikFinance](https://finance.detik.com/bursa-dan-valas/d-8691564/masih-jauh-dari-target-baru-7-perusahaan-yang-melantai-di-bursa) — bukan salinan langsung.

© 2026 Analisa Pasar — bagian dari MarginIn. Tentang · Kebijakan Privasi
Sumber data: Bank Indonesia (suku bunga & inflasi) · World Bank (makro Indonesia) · FRED / Federal Reserve (makro global) · European Central Bank (kurs) · CoinGecko (kripto) · Twelve Data (saham global).
Tulisan di sini kami susun sendiri dari sumber-sumber di atas. Angkanya kami tampilkan apa adanya — anggap ini bahan analisa, bukan ajakan beli atau jual.