IHSG Anjlok 2,59% ke 5.936: Rumor Investigasi OJK Hantam Saham Energi, Bos BEI Pilih Diam
Senin (12/10/2026) jadi hari yang berat buat pasar saham. IHSG ditutup melemah 2,59% ke level 5.936,14, padahal pagi harinya indeks sempat naik 0,56% dan menyentuh posisi tertinggi intraday di 6.128,72. Dari puncak ke penutupan, artinya indeks kehilangan hampir 200 poin dalam satu sesi.
Pemicu yang beredar: investigasi manipulasi harga
Menurut laporan detikFinance, pelemahan ini diduga dipicu kabar bahwa Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan mengumumkan hasil investigasi dugaan manipulasi harga yang melibatkan beberapa saham energi. Sumber kabarnya adalah laporan Stockbit, yang menyebut investigasi itu menyasar emiten di sektor energi terbarukan dan tambang batu bara, dengan ancaman denda hingga ratusan miliar rupiah.
Perlu dicatat: sampai artikel sumber ditulis, ini masih berstatus kabar pasar. Belum ada pengumuman resmi OJK yang menyebut nama emiten. Tapi pasar jelas tidak menunggu konfirmasi.
Yang paling terpukul: grup Prajogo Pangestu dan Sinar Mas
Koreksi terdalam terjadi di saham energi milik dua konglomerat besar:
- PT Petrosea Tbk (PTRO) turun 14,95% ke Rp4.040
- PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) turun 14,94% ke Rp655
- PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) turun 14,60% ke Rp965
Tiga saham ini kompak terkoreksi di kisaran 15% dalam satu hari. Buat yang memegang saham-saham ini, pertanyaan besarnya adalah apakah tekanan jual sudah selesai atau Selasa masih ada lanjutan.
Pelemahan juga sangat lebar. Dari total saham yang diperdagangkan, hanya 114 yang menguat, sementara 602 melemah dan 77 stagnan. Turnover mencapai Rp13,73 triliun dengan 1,88 juta kali transaksi, jadi ini bukan penurunan di volume tipis.
Respons Bursa: "No comment"
Ditanya wartawan di Gedung BEI soal kabar investigasi tersebut, Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik hanya menjawab singkat bahwa ia tidak akan berkomentar. Sikap diam ini wajar secara prosedural, karena investigasi manipulasi adalah ranah OJK, bukan bursa. Tapi bagi pasar, ketiadaan bantahan sering dibaca sebagai sinyal tersendiri.
Sebagai konteks, data OJK yang dikutip detikFinance menunjukkan penegakan hukum di pasar modal sepanjang Januari sampai 30 September 2026 sudah cukup agresif: 161 pihak dikenakan denda terkait manipulasi pasar dengan total Rp267,61 miliar, ditambah 4 pembekuan izin, 2 pencabutan izin, 2 peringatan tertulis, dan 19 perintah tertulis. Artinya, kalau kabar investigasi baru ini benar, polanya konsisten dengan tahun yang memang sudah keras soal penegakan.
Kenapa ini penting buat yang memantau pasar
Ada tiga hal yang layak dicermati:
1. Risiko regulasi kini jadi faktor harga. Saham-saham energi grup besar selama ini jadi penggerak indeks. Kalau sebagian dari valuasinya ternyata ditopang transaksi yang dipersoalkan OJK, koreksi bisa berlanjut setelah pengumuman resmi keluar. 2. Kabar belum terkonfirmasi, tapi dampaknya nyata. Penurunan 2,59% berdasarkan rumor menunjukkan betapa rapuhnya sentimen. Pengumuman resmi, apa pun isinya, kemungkinan akan menggerakkan harga lagi. 3. Latar globalnya juga tidak ramah. Pasar sedang menanti data inflasi AS dan arah suku bunga The Fed pekan ini, sementara dolar bertahan dekat level tertinggi 18 bulan. Secara bulanan IHSG sudah minus 9,16%, dan secara enam bulan jatuh 16,29%, menurut data RTI yang dikutip [laporan penutupan detikFinance](https://finance.detik.com/bursa-dan-valas/d-8703879/ihsg-jatuh-2-5-balik-ke-level-5-900an) di hari yang sama.
Untuk investor ritel, pelajaran praktisnya sederhana: konsentrasi di saham konglomerasi yang sedang disorot regulator punya risiko yang tidak terlihat di laporan keuangan. Tunggu pernyataan resmi OJK sebelum mengambil posisi baru di saham-saham yang disebut, dan perhatikan apakah tekanan jual di PTRO, CUAN, dan DSSA berlanjut atau justru ada pembelian balik pada Selasa.
Ditulis ulang dari [detikFinance](https://finance.detik.com/bursa-dan-valas/d-8704003/begini-jawaban-bos-bursa-efek-soal-ihsg-anjlok-2-59) — bukan salinan langsung.