IHSG Anjlok 1,88%, Minus 30% Sepanjang 2026, Sementara Modal Asing Rp131 T Pilih Obligasi
Kamis (8/10) jadi hari yang pahit buat pemegang saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,88% ke 6.031,28, padahal pagi harinya sempat menyentuh 6.179,09. Dalam sebulan terakhir indeks sudah kehilangan 8,47%, dan sepanjang 2026 koreksinya mencapai 30,25%. Di hari yang sama, Menteri Keuangan Suahasil Nazara justru memamerkan angka yang terdengar bertolak belakang: modal asing Rp131 triliun masuk ke Indonesia sejak awal tahun. Dua kabar ini sebenarnya tidak saling membantah, dan justru di situlah ceritanya.
Apa yang terjadi di bursa
Mengutip data RTI Business yang dilaporkan detikFinance, tekanan jual Kamis sangat merata. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, 497 melemah, 171 menguat, dan 119 stagnan. Indeks LQ45 turun lebih dalam lagi, 1,99% ke 593,64, artinya saham-saham besar yang biasanya jadi pegangan investor institusi ikut dilepas.
Nilai transaksi tercatat Rp12,79 triliun dengan volume 63,19 miliar saham dan frekuensi 1,95 juta kali. Bukan angka yang tipis, jadi penurunan ini bukan sekadar pasar sepi yang mudah digoyang. Ada pihak yang memang sedang keluar.
Dari sisi kurs, rupiah dibuka melemah 0,16% ke Rp17.915 per dolar AS. Analis Doo Financial Lukman Leong, seperti dikutip ANTARA, menunjuk tiga pemicu yang bergerak serempak: indeks dolar, imbal hasil obligasi AS, dan harga minyak, semuanya naik setelah muncul laporan AS menyiapkan opsi serangan militer ke Iran. Ditambah indeks keyakinan konsumen September yang turun tipis dari 118,5 ke 118,1.
Modal asing masuk, tapi bukan ke saham
Angka Rp131 triliun yang disampaikan Suahasil di Investor Daily Summit perlu dibaca dengan teliti. Itu aliran masuk ke Surat Berharga Negara (SBN) dan surat berharga Bank Indonesia, periode 1 Januari sampai 7 Oktober 2026. Bukan ke pasar saham.
Alasannya masuk akal kalau dilihat dari kacamata pemodal global. Menurut Suahasil, imbal hasil obligasi AS saat ini di 5,28%, tertinggi dalam sekitar 23 tahun. Dalam kondisi begitu, uang cenderung pulang ke Amerika, dan negara berkembang harus menawarkan premi ekstra supaya tetap menarik. Premi Indonesia, atau selisih imbal hasil terhadap obligasi AS, kini sekitar 188 basis poin per 7 Oktober. Dulu, kata Suahasil, Indonesia pernah harus menawarkan 400 sampai 500 basis poin, bahkan sekitar 1.000 basis poin pada 2003. Ia menyebut spread 188 bps itu lebih rendah dibanding India, Filipina, Afrika Selatan, Meksiko, dan Brasil.
Jadi gambarannya: investor asing masih percaya pada kemampuan Indonesia membayar utang, dan bersedia memegang obligasi pemerintah dengan premi yang semakin tipis. Yang belum mereka beli adalah risiko ekuitasnya.
Yang perlu dicermati
- Spread tipis itu pedang bermata dua. Buat APBN, premi 188 bps berarti biaya bunga lebih ringan. Buat pasar saham, ini belum jadi katalis apa-apa, karena uang yang masuk parkir di instrumen pendapatan tetap.
- Koreksi 30% sepanjang tahun bukan sekadar sentimen sehari. Kalau rebound pagi ke 6.179 saja bisa habis dalam satu sesi, artinya setiap penguatan masih dipakai sebagai kesempatan menjual.
- Pantau tiga variabel yang sama: imbal hasil obligasi AS, harga minyak, dan kurs rupiah. Selama ketiganya naik bersamaan, tekanan ke saham besar di LQ45 sulit mereda, apa pun kabar baik dari sisi fiskal.
Ditulis ulang dari [detikFinance](https://finance.detik.com/bursa-dan-valas/d-8698311/ihsg-turun-hingga-1-88-ke-level-6-031), dengan data tambahan dari [detikFinance soal modal asing](https://finance.detik.com/bursa-dan-valas/d-8698666/modal-asing-rp-131-triliun-mengalir-ke-ri) dan [ANTARA soal rupiah](https://www.antaranews.com/berita/5777145/rupiah-melemah-dipengaruhi-ancaman-serangan-militer-as-terhadap-iran) — bukan salinan langsung.