Chandra Asri (TPIA) Klaim Balik Laba US$395 Juta, tapi Pahami Dulu Angka 'Disesuaikan'-nya
PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) memaparkan kinerja sembilan bulan pertama 2026 dalam diskusi dengan media di Jakarta, Senin (2/11/2026). Pesannya jelas: perseroan mengklaim sudah berbalik dari rugi ke laba. Tapi bagi investor, detail cara angka itu disusun sama pentingnya dengan angkanya sendiri.
Angka yang dipaparkan manajemen
Menurut Direktur SDM dan Urusan Korporat Chandra Asri Group, Suryandi, setelah penyesuaian akuntansi kinerja Januari–September 2026 adalah sebagai berikut:
- Pendapatan: US$8,2 miliar, naik dari US$5 miliar pada periode yang sama 2025.
- EBITDA: berbalik dari minus US$32 juta menjadi positif sekitar US$1 miliar.
- Laba bersih: US$395 juta (sekitar Rp7,17 triliun dengan kurs Rp18.156), dibanding rugi bersih US$153 juta setahun sebelumnya.
Manajemen mengaitkan lonjakan ini dengan akuisisi aset kilang dan petrokimia Shell di Singapura pada Mei 2025, yang dilakukan bersama Glencore lewat perusahaan patungan CAPGC Pte. Ltd. dan kini bernama Aster Energy and Chemicals Park, ditambah peningkatan kapasitas produksi di dalam negeri.
Kenapa kata "disesuaikan" penting
Angka di atas bukan perbandingan mentah dari laporan keuangan. Perseroan mengeluarkan pencatatan one-off negative goodwill dari akuisisi 2025 karena menurut Suryandi perbandingan tanpa penyesuaian "tidak apple to apple". Logikanya masuk akal, karena pos akuntansi sekali jadi memang bisa mengaburkan tren operasional. Tapi tetap saja ini versi yang disusun manajemen. Investor yang serius sebaiknya mencocokkannya dengan laporan keuangan kuartal III resmi di keterbukaan informasi BEI sebelum menarik kesimpulan soal valuasi.
Risiko yang masih menggantung: nafta dan Hormuz
Di forum yang sama, Suryandi mengakui sekitar 80% kebutuhan nafta, bahan baku utama Chandra Asri, berasal dari Timur Tengah dan biasanya diangkut melewati Selat Hormuz yang kini terganggu konflik AS–Iran. Jalan keluar jangka panjangnya adalah fasilitas Condensate Splitter Unit di Cilegon berkapasitas 300 ribu barel per hari yang ditargetkan menghasilkan sekitar 2,5 juta ton nafta per tahun. Masalahnya, fasilitas itu baru diharapkan beroperasi pada 2027, dan perseroan menegaskan impor nafta tetap berjalan. Artinya, dalam waktu dekat margin TPIA masih terpapar langsung pada gejolak pasokan dan harga di kawasan Teluk.
Proyek lain yang perlu dipantau adalah pabrik chlor-alkali dan ethylene dichloride (CA-EDC). Progresnya disebut sudah 80% per September 2026, didukung pendanaan US$200 juta dari INA dan Danantara, dengan target operasi 2027 dan kapasitas soda kaustik 400 ribu ton per tahun untuk industri alumina dan nikel.
Yang perlu dicermati
Manajemen yakin angka setahun penuh akan lebih tinggi lagi. Untuk trader dan investor, pertanyaan utamanya ada dua: seberapa besar porsi laba yang benar-benar berulang dari operasi Aster di Singapura, dan seberapa tahan margin kalau gangguan di Hormuz berlarut-larut sebelum CSU Cilegon selesai.
Ditulis ulang dari [detikFinance](https://finance.detik.com/industri/d-8734916/chandra-asri-balik-modal-dari-rugi-us-153-juta-jadi-untung-us-395-juta) — bukan salinan langsung. Detail soal nafta merujuk [laporan detikFinance terpisah](https://finance.detik.com/industri/d-8735110/hormuz-terganggu-chandra-asri-cari-sumber-nafta-di-luar-timur-tengah).