RAPBN 2027 Pakai Asumsi Kurs Rp17.500 — Padahal Rupiah Sudah di Situ Sekarang
Kalimat Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di Kementerian Keuangan, Rabu (9/9/2026), terdengar menenangkan: pemerintah akan mengambil langkah menjaga kesinambungan anggaran bila harga minyak dunia melonjak pada 2027, dan ini "bukan pengalaman baru". Ia tidak merinci bentuk kebijakannya. Yang lebih layak dibaca pelaku pasar bukan pernyataannya, melainkan angka asumsi yang sudah tercetak di RAPBN 2027 — karena di situlah ruang geraknya terlihat.
Angkanya
RAPBN 2027 memakai asumsi Indonesian Crude Price (ICP) US$75 per barel dan kurs Rp17.500 per dolar AS, setara sekitar Rp1,31 juta per barel. Bandingkan dengan APBN 2026: ICP US$70 dan kurs Rp16.500, atau sekitar Rp1,16 juta per barel.
Perhatikan selisihnya. Dalam dolar, asumsi minyak cuma naik 7 persen. Dalam rupiah — mata uang yang dipakai membayar subsidi — naiknya hampir 13 persen, karena asumsi kurs ikut digeser Rp1.000. Konsisten dengan itu, subsidi energi dipatok Rp272,95 triliun, naik Rp45,65 triliun atau sekitar 20 persen dari outlook 2026 sebesar Rp227,3 triliun.
Sekjen Kementerian ESDM Ahmad Erani Yustika mengingatkan besaran subsidi energi ditentukan beberapa variabel sekaligus: harga minyak internasional, ICP, nilai tukar, dan kuota energi bersubsidi. Artinya dua variabel pertama dan kurs bekerja secara berlipat, bukan berurutan.
Kenapa ini penting sekarang
Asumsi kurs itu bukan target yang jauh. Rabu lalu rupiah justru menguat 121 poin ke Rp17.511 per dolar AS dari Rp17.632, dengan JISDOR di Rp17.552, didorong arus masuk ke pasar obligasi pemerintah ([laporan ANTARA](https://www.antaranews.com/berita/5733105/rupiah-menguat-seiring-arus-modal-masuk-yang-deras-ke-pasar-obligasi)). Jadi level yang dipakai sebagai asumsi sepanjang 2027 praktis sudah disentuh pada September 2026 — pada hari rupiah sedang bagus.
Itu berarti bantalannya tipis di kedua sisi. Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mencatat ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed pekan depan naik ke 60 persen dari sebelumnya 35 persen, dipicu inflasi AS yang berlanjut karena harga minyak tinggi. Skenario yang tidak nyaman buat APBN bukan "minyak naik" atau "rupiah melemah", tapi keduanya sekaligus — dan keduanya dipicu sumber yang sama.
Yang dipantau
Buat pemegang portofolio, ada tiga hal konkret. Pertama, data inflasi AS yang keluar Kamis (10/9) — ini yang menentukan apakah probabilitas 60 persen itu mengeras. Kedua, setiap penyesuaian asumsi ICP/kurs dalam pembahasan RAPBN 2027 di DPR; revisi asumsi ke atas adalah sinyal bahwa ruang fiskal menyempit sebelum tahun anggarannya mulai. Ketiga, arah pengendalian subsidi BBM yang menurut Purbaya dilakukan bertahap agar tepat sasaran — ini variabel kuota, satu-satunya yang sepenuhnya di tangan pemerintah saat harga dan kurs tidak bisa dikendalikan.
Tanpa rincian kebijakan, "tidak akan terlalu kaget" belum bisa diverifikasi pasar. Yang bisa diverifikasi adalah apakah asumsinya masih bertahan tiga bulan dari sekarang.
Ditulis ulang dari [ANTARA](https://www.antaranews.com/berita/5733608/menkeu-siapkan-langkah-jaga-apbn-jika-harga-minyak-dunia-melonjak) — bukan salinan langsung.