M Analisa Pasar
← Semua analisa

Laba Antam Naik 34 Persen, Tapi Empat Per Lima Pendapatannya dari Emas

antmantamemasnikellaporan keuanganidx

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mengumumkan laba bersih Rp6,91 triliun untuk semester I-2026 dalam Public Expose Live yang digelar daring, Kamis (10/9/2026). Naik 34,4 persen dari Rp5,14 triliun pada periode yang sama tahun lalu — padahal pendapatannya hanya tumbuh 6,3 persen, dari Rp59,02 triliun ke Rp62,71 triliun. Margin laba bersih ikut terangkat dari sekitar 8,7 persen ke 11 persen.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Antam, Arini Kasmira, mengaitkan perbaikan itu dengan eksekusi efisiensi operasional serta penjagaan kualitas produksi dan volume penjualan, terutama di emas dan nikel. Head of Investor Relations Ihsan Rahman menyebut efisiensi antara lain lewat optimalisasi penggunaan energi di smelter feronikel Pomalaa dan penerapan pemeliharaan prediktif untuk menekan waktu henti operasi.

Angka yang paling layak dicermati bukan labanya

Dari sisi segmen, emas menyumbang sekitar Rp50,1 triliun dari total pendapatan Rp62,71 triliun. Bijih nikel dan feronikel menyumbang sekitar Rp10,4 triliun, bauksit sekitar Rp870 miliar. Artinya sekitar empat per lima pendapatan Antam datang dari satu komoditas.

Yang membuatnya menarik adalah pasangan angka berikutnya: volume penjualan emas semester I-2026 mencapai 18,1 ton, sementara produksi emas perseroan tercatat 430 kilogram. Selisih itu berbicara sendiri — mayoritas emas yang dijual Antam bukan hasil tambangnya sendiri, melainkan diolah dan diperdagangkan lewat lini Logam Mulia. Bisnis semacam ini memutar pendapatan besar dengan margin per unit yang tipis, dan itu konsisten dengan margin EBITDA perseroan yang tercatat 14,8 persen — angka yang relatif ramping untuk sebuah perusahaan tambang.

Bagi pemantau saham, konsekuensinya cukup praktis: laba ANTM lebih peka pada harga emas dan volume ritel Logam Mulia ketimbang pada siklus harga nikel, meski publik terlanjur mengenalnya sebagai emiten nikel. Sebagai pembanding, pendapatan dari bijih nikel tercatat Rp8,6 triliun dengan penjualan 6,8 juta wmt, sedangkan feronikel hanya Rp1,8 triliun dari 7,6 ribu ton nikel.

Neraca kuat, arus kas perlu diikuti

Antam menutup semester dengan kas dan setara kas Rp9,23 triliun, total aset Rp61,27 triliun, ekuitas Rp38,53 triliun, dan utang berbunga sekitar Rp5,74 triliun. Rasio TTM-nya di atas acuan industri: ROA 16 persen (industri 13 persen) dan ROE 25 persen (industri 17,6 persen).

Satu hal yang pantas ditandai untuk kuartal berikutnya: arus kas bersih dari aktivitas operasi tercatat sekitar Rp4,2 triliun, di bawah laba bersih Rp6,91 triliun. Selisih seperti ini lazim pada bisnis yang perputaran persediaannya besar, tapi tetap layak dipantau — laba yang tumbuh cepat baru benar-benar meyakinkan kalau konversinya ke kas ikut mengejar. Rencana ekspansi, termasuk fasilitas manufaktur Logam Mulia di Gresik yang masih tahap prakonstruksi, akan diuji di situ.

Ditulis ulang dari [ANTARA News](https://www.antaranews.com/berita/5735525/antam-membukukan-laba-bersih-rp691-triliun-pada-semester-i-2026) — bukan salinan langsung.

© 2026 Analisa Pasar — bagian dari MarginIn. Tentang · Kebijakan Privasi
Sumber data: Bank Indonesia (suku bunga & inflasi) · World Bank (makro Indonesia) · FRED / Federal Reserve (makro global) · European Central Bank (kurs) · CoinGecko (kripto) · Twelve Data (saham global).
Tulisan di sini kami susun sendiri dari sumber-sumber di atas. Angkanya kami tampilkan apa adanya — anggap ini bahan analisa, bukan ajakan beli atau jual.