Adhi Karya Lepas 47% Tol Jogja-Solo ke SMI Senilai Rp1,77 Triliun: Bayar Utang dan Berhenti Suntik Modal
PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) memilih keluar total dari bisnis konsesi Tol Solo-Yogyakarta-NYIA Kulon Progo. Lewat keterbukaan informasi yang dipublikasikan Rabu (7/10/2026) dan dilaporkan CNBC Indonesia, ADHI berencana menjual seluruh 1.714.808 saham atau 47,18% kepemilikannya di PT Jasamarga Jogja Solo (JMJ) kepada PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) alias SMI. Nilai transaksinya Rp1.765.816.000.000, dibulatkan Rp1,77 triliun.
Buat pemegang saham ADHI, ini bukan sekadar jual aset. Ini sinyal arah baru BUMN karya: berhenti jadi investor infrastruktur yang modalnya terus disedot, dan kembali fokus jadi kontraktor.
Detail transaksinya
- Perjanjian Jual Beli Bersyarat (PJBB) sudah diteken 30 September 2026, dengan target penyelesaian paling lambat 30 November 2026.
- Syarat yang belum terpenuhi: konfirmasi dari Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) dan restu RUPS ADHI.
- KJPP Toto Suharto & Rekan menaksir nilai pasar saham itu Rp1,74 triliun per 30 Juni 2026. Harga jual ke SMI berada 1,75% di atas taksiran dan dinilai wajar oleh penilai independen.
- Setelah transaksi tuntas, ADHI nol persen di JMJ. Pemegang saham yang tersisa hanya PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) dengan 52,82%.
Manajemen menyebut dana hasil divestasi dipakai untuk membayar utang berbunga, menambah modal kerja, dan kebutuhan usaha lainnya. Alasan lain yang disebut terang-terangan: JMJ diproyeksikan masih merugi pada tahap awal operasi tol, dan ADHI tidak ingin terus menyetor modal tambahan ke sana.
Sisa dana rights issue Rp378,69 miliar dialihkan
Agenda kedua di RUPSLB adalah mengubah penggunaan dana rights issue (PMHMETD II) Oktober 2022. Waktu itu ADHI menghimpun dana bersih Rp2,65 triliun: Rp1,98 triliun dari Penyertaan Modal Negara dan Rp675,5 miliar dari publik. Per 30 Juni 2026 masih tersisa Rp378,69 miliar, dan sisa inilah yang diusulkan jadi modal kerja untuk menyelesaikan proyek carry over: beli material, bayar tenaga kerja dan subkontraktor, mobilisasi alat, sampai proyek bisa ditagihkan.
Alokasi ke anak usaha dipangkas hampir di semua pos:
- Setoran ke JMJ turun jadi Rp1,68 triliun dari Rp2 triliun (versi RUPS 30 April 2025).
- Jasamarga Jogja Bawen jadi Rp532,19 miliar dari Rp535 miliar.
- Jalintim Adhi Abipraya jadi Rp54,32 miliar dari Rp70 miliar.
- Investasi pengolahan limbah dan jalan tol menyusut tajam ke Rp2,69 miliar dari Rp41,5 miliar.
ADHI menyebut langkah ini sebagai tindak lanjut Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2025 tentang percepatan penataan BUMN: streamlining bertahap, fokus bisnis inti, dan tidak lagi menyetor modal ke entitas investasi.
Kenapa ini penting buat yang memantau saham karya
Masalah klasik BUMN karya adalah neraca yang berat: proyek dibiayai utang, lalu modal tersangkut di konsesi yang baru menghasilkan kas bertahun-tahun kemudian. Divestasi ke SMI, yang merupakan BUMN pembiayaan infrastruktur, memindahkan beban itu ke pihak yang memang didesain untuk memegangnya. Harga yang sedikit di atas taksiran independen juga mengurangi kekhawatiran aset BUMN dilego murah.
Yang belum terjawab dari keterbukaan informasi: berapa persisnya utang berbunga yang akan dilunasi dan dampaknya ke beban bunga. Itu angka yang layak ditunggu di laporan keuangan berikutnya.
Tanggal yang perlu dicatat
- Recording date pemegang saham yang berhak hadir: penutupan perdagangan Rabu, 21 Oktober 2026.
- Pemanggilan RUPSLB: Kamis, 22 Oktober 2026.
- RUPSLB: Jumat, 13 November 2026, di ADHI Tower, Jakarta Timur.
- Kuorum lebih dari separuh saham dengan hak suara, keputusan sah dengan persetujuan lebih dari separuh yang hadir.
Dengan Danantara Asset Management memegang 63,689% saham ADHI per 23 Juli 2026 (publik 35,668%, Badan Pengatur BUMN 0,643%), hasil voting praktis sudah bisa ditebak. Yang lebih menentukan justru konfirmasi BPJT dan apakah transaksi benar-benar tuntas sebelum 30 November.
Ditulis ulang dari [CNBC Indonesia](https://www.cnbcindonesia.com/news/20261011112500-4-775065/adhi-karya-jual-tol-jogja-solo-rp-1765-triliun-ini-dia-pembelinya) — bukan salinan langsung.